Jujur saja, pada
awalnya gue hanya tertarik sama film ini karena melihat pict Lee Yo Won yang cute
di cover filmnya. Ya, Lee Yo Won itu
emang cute banget kan, dan terlihat
dewasa, hehehehe, emang udah dewasa kali. (Ini bisa jadi salah satu alasan juga
gue demen sama drakor 49 days, meskipun nggak pernah nonton sampe abis, bahkan
kayaknya satu episode juga enggak.) Kalo diperhatikan dari genrenya, crime dan
drama... hmmmmm, drama oke lah, tapi crime?? Kayaknya crime bukan gue banget.
Tapi ya itu, karena ada pict Mbak Lee
yang cute, akhirnya gue terhipnotis
untuk mengklik link downloadnya. Di sisi lain gue udah percaya bahwa akting
aktris yang satu ini pasti keren, jadinya gue mengasumsikan bahwa filmnya juga
bakal keren. Readers yang budiman, terkadang kita bisa menjudge sebuah film
dari aktor/aktrisnya. Maksud gue, aktor/aktris yang baik pasti cenderung untuk
tidak bermain di film abal-abal, ya kan?!
Meskipun begitu,
film ini nggak gue prioritaskan di watchlist.
Ya, karena di hard disk gue ketika itu masih tersedia “Oblivion” yang sangat
menggiurkan dan banyak dibicarakan orang. Karena genrenya yang gelap, gue jadi
mengesampingkan film ini. Padahal sekarang, setelah gue tonton, film ini gue
tempatkan di tempat yang lebih tinggi di hati gue, daripada “Oblivion”. Namun
ketika sudah tertulis di Lauh Mahfudz, nggak bisa diganggu lagi, akhirnya malem
tadi gue lahap nih film. Padahal nggak ada niatan pengen nonton film, gue nggak
mau begadang.
Singkat banget nih,
bakal gue beberkan garis merah dari film ini. Jadi ini bercerita tentang
seorang GiMat yang membantu seorang perempuan yang telah membunuh seseorang
(secara nggak sengaja, tentunya). Tadinya si perempuan ini bakalan menyerahkan
diri ke polisi, tapi kemudian si GiMat meminta supaya si perempuan mau
membiarkan si GiMat menolongnya, dia berjanji akan melindunginya. Lalu si GiMat
membuat rencana yang brilian untuk mengelabui polisi, meskipun sebenernya bukan
polisi lah yang sangat ingin dia kelabui tapi... (temukan jawabannya di ending
film! Hehehehehe.)
Pembukaannya biasa
aja, enggak kayak Epic yang baru aja opening sudah menyuguhkan senjata
utamanya. Sebelum mengerti betul cerita film ini, gue cuma bisa menyukai appearance Mbak Lee dan menyadari kalau
beliau emang keren. (Lee lagi, Lee lagi,
hehehe, jangan envy ya, cuma ngefans kok.) Tapi menurut gue aktor cowoknya
juga keren aktingnya. Dan karena dia memerankan seorang GiMat (Gila
Matematika), dia jadi tambah keren menurut gue. Dan ini membuat gue inget sama
kembaran gue si YH yang GiMat, gue harap dia bisa nonton film ini someday. Entahlah, tapi gue selalu
terpesona dengan para GiMat. Mereka biasanya keren-keren, terutama YH tuh, the only one yang sampe sekarang gue
belum ketahui gebetannya (sama kayak si pemeran utama fim ini di masa lalu).
Menurut gue itu hal yang keren banget, menurut gue ya, bukan pendapat publik.
Omong-omong, tim IMO Indonesia akhirnya dapet emas lho tahun ini, di Columbia
kalo nggak salah. Waaaah, selamat banget deh. Ikutan seneng, meskipun gue bukan
siapa-siapa, setidaknya gue ikutan seneng sebagai warga Indonesia.
(Kok jadi bahas
Matematika ya, oke kembali ke film)
Mungkin karena gue
sudah pernah membaca sedikit sinopsisnya jadi gue sedikit membuat rekaan
bagaimana alurnya akan berjalan. Dan ternyata rekaan gue nggak meleset.
Walaupun begitu gue tetep menikmati film ini tanpa rasa penasaran yang
berkurang. Ini film misterius yang konten masalahnya cukup cocok buat gue,
maksudnya kapasitas otak gue. Kalo kayak “Day Watch” atau “Night Watch” kan
nggak keotakan sama gue. Ada satu Quote di film ini yang mewakili banget buat
semua isi film, “Tapi membuat masalah yang tak dapat diselesaikan atau
pemecahan masalahnya. Mana yang lebih sulit?” (gue copas langsung dari
subtitle-nya). Mungkin lo bakal tahu jawabannya setelah menonton film. Tapi gue
nggak menemukannya, hehehe, kalian yang lebih keren otaknya mungkin bisa lebih
sukses dalam menemukan jawaban itu.
Untuk genre crime
gue rasa film ini crime-nya boleh juga,
meskipun crime-nya menurut gue nggak terlalu kelam. Entahlah, gue jarang nonton
film crime sih, jadi nggak bisa ngebandingin. Tapi mungkin karena crime-nya
merupakan pembunuhan, yaitu top-markotop-nya tindakan jahat, film ini bisa cukup
disejajarkan dengan film-film crime lain. Tapi lo yang doyan darah, jangan
berharap di sini, karena di film ini nggak ada darah-darahan. Eh, tunggu, hhmmm, ya iyalah, ini kan bukan
thriller.
Seperti yang gue
ungkapkan di stat FB, film ini pecah bro! Temanya keren, alurnya keren,
aktingnya keren, naskahnya keren, take
gambarnya juga keren (maksudnya nggak jelek, kayak film “Nobody Knows” yang
menurut gue mengecewakan di bagian pengambilan gambar). Meskipun musiknya
menurut gue terlalu gelap, film ini serasa jadi horor. Tapi nggak apa-apa, itu
nggak terlalu merusak kok. Dan nggak ada musik romance (yg banget), tapi nggak
apa-apa juga kok, lagian kan film ini bukan film romance. Lebih dari itu, film
ini menunjukkan kepada gue tentang pengorbanan cinta yang sejati banget, yang gentleman banget, meskipun pada saat
yang bersamaan terlihat sangat dungu. Tapi itulah cinta, meskipun tidak
rasional, kau akan tetap melakukannya.
Endingnya adalah
yang paling keren, menurut gue. Lo kalo lihat endingnya, lo bakal respect
banget sama si pemeran utama cowok. Gue aja sampe geleng-geleng kepala
(kayaknya), kok ada ya orang secinta tapi (juga) segoblok ini (sekaligus dia
adalah orang yang sangat pintar)?? Ini adalah ending film yang nggak happy tapi gue suka banget, pecah banget
dah pokoknya, apalagi di situ Mbak Lee kemantepan aktingnya keluar. Pokoknya
gue demen banget sama film ini. Wajib nonton deh buat kamu, film KOREA yang satu ini, KEREN BANGET!!! Perfect Number, two
thumbs up!
Nih, gue kasih
Quote paling pecahnya:
“Tidak. Ini tidak
benar. Kau sudah tidak waras.Ini bukan cinta. Ini kenyataan. Kenapa kau
menyiakan otak jeniusmu?” kata Detektif Jo.
Dan lo tahu nggak
apa jawaban Seok-go, lo harusnya bisa nebak. Dia bilang, “Ini bukan tentang
otakku. Ini hatiku.”
Beuh, pecah banget
kan itu??!! Kalo intensitas dramanya dianaikkin dikit aja, misalnya dengan
mempermelankolis musiknya, ada kesempatan bagi penonton untuk meneteskan air
mata di ending film. Tapi segitu juga udah cukup mantep, menurut gue.
Keren banget deh!
Totally and
perfectly worth to watch! Perfect Number!
Keep spirit and
kiss your Mathematics books!
0 komentar:
Posting Komentar