Jumat, 14 Juni 2013

Rainbow Colors


Gue percaya bahwa siapapun bisa menjadi apapun kalo bener-bener berusaha. Gue bisa menjadi pemain bola kalo gue bertekad kuat dan berusaha dengan semaksimal mungkin. Kalo perlu, gue bakal nyewa CR biar ngelatih gue supaya jadi tukang tendang yang handal dan jadi bintang iklan sampo yang terkenal. (FYI: Kalo mau jadi bintang iklan celana dalam, bergurunya ke David Beckam.) Tapi mungkin bakal butuh waktu seumur pohon Sequoia kalo gue pengen jadi pemain bola.
Kenapa nggak manfaatin yang ada aja? Maksudnya, kenapa gue nggak belajar nulis aja kalo emang gue nyamannya di sana? Gue nggak perlu nyewa Shaekspare untuk menulis sebuah cerita yang berjudul “Kucing Yang Tertukar”, atau “Kucing Bubur Naik Haji”, atau “Akibat Main Kucing-kucingan”. Bagaimana dengan kalian, readers? Apakah lo perlu menyewa Andrea Hirata untuk menulis sebuah cerita berjudul “Ratapan Anak Kucing”? Kalo jawaban lo “ya”, nggak apa-apa, nggak usah sedih, nggak usah ganti identitas atau memeriksakan diri ke Tukang Ojek. Mungkin bakat lo emang bukan di dunia tulis menulis. Mungkin bakat lo di dunia tendang menendang. Gue yakin, kalo bakat itu lo kembangkan, lo bakal jadi buronan Manchester United, Real Madrid, Barcelona, bahkan Timnas Inggris.

Readers yang ibuman, hidup ini penuh dengan warna, bahkan bagi gue dan lo yang cuma memiliki dua kemungkinan warna iris (selaput pelangi). Nggak usah risau, dan nggak usah galau, Tuhan Yang Maha Agung nggak menilai kita dari seberapa dewa kita ngitung persamaan-persamaan Trigonometri yang, aduhai, bikin mabok itu. Readers, Tuhan Yang Maha Mulia udah mengajarkan keindahan sama kita melalui filosofi spektrum warna pelangi. Apakah pelangi cuma punya satu warna? Enggak kan. Bahkan bagi orang buta warna sekalipun, pelangi tetaplah warna-warni. Jadi, kenapa kita menyusahkan diri dengan mengejar sesuatu yang bukan “nyawa” kita, hanyak untuk menjadi sesuatu yang bukan diri kita?


Emang sih, kalo kita menilai sebuah kesuksesan dari segi materi, maka konsep kesuksesan itu akan menjadi begitu sempit. Mungkin akan sesempit liang kubur para koruptor. Makanya readers, jangan lupa untuk selalu memandangi pelangi kalo dia muncul sehabis hujan, semoga itu bisa membuat kamu lebih fresh dan lebih berlapang dada atas apa yang telah Tuhan berikan kepadamu. Dan jangan lupa untuk membelikan gue es krim kalo suatu saat nanti lo sukses, dan lo nyadar ternyata hidup lo itu berubah setelah lo sering ngeliatin pelangi kalo dia muncul, sesuai saran (sesat) gue.

0 komentar:

Posting Komentar