Sabtu, 29 Juni 2013

Potensi (Sebuah Percakapan Ngawur)





Gue lagi apa? Gue lagi wawancara. Sama siapa? Sama seorang doktor yang keren, masih muda, tapi—maaf—udah beruban. Buat apa gue diwawancara? Entahlah, mungkin gue lagi ngelamar kerja untuk mengisi suara di film-film kartun, itu adalah cita-cita rahasia gue. Rahasia antara gue, Tuhan, dan siapapun yang baca tulisan ini, jadi, ssssttt, jangan bilang siapa-siapa ya, apalagi Presiden SBY (sekarang Jokowi).

“Baiklah, Nak [biiip], sebutkan potensi-potensi yang Anda miliki!”
“Potensi saya Pak? Hmmmm, potensi download film, potensi nonton film, potensi download musik, potensi dengerin musik, potensi download game,
potensi kalah main game, potensi nulis tulisan ngaw
“T-t-tunggu! Itu potensi Anda?! Potensi macam apa itu?!” ucapnya ngambek.
“Eh... ya potensi Pak. Potensi untuk membuat diri saya senang dan bahagia.”
“Apa?! Nggak ada potensi yang kayak begitu!!”
“Lho??!! Gitu ya Pak?! Terus kayak gimana dong?!”
“Potensi itu adalah sesuatu yang menghasilkan. Kayak saya nih, potensi saya banyaaaak sekali.”
“Apa aja tuh Pak? Tapi nggak sebanyak uban di kepala Bapak kan?? Hehehe...”

Plakkk!! Gue ditempeleng.

Bapak itu tampak kesal banget. Tapi setelah kesalnya redayaitu sekitar 15 menit kemudian, dan selama 15 menit itu dia menumpahkan kekesalannya dengan memurkai mencaci maki gue, bahkan dia nyumpahin supaya gue cepet beruban. Padahal kan gue baru aja manis tujuh belas, jenggot gue aja baru semak-semak belum menjadi hutandia melanjutkan ocehannya.

“Nih ya, dengerin saya ya! Saya punya potensi dalam hal hitung-menghitung, makanya sekarang saya bisa jadi akuntan. Anda tahu berapa gaji akuntan?! DUA PULUH JUTA, tahu nggak!! Itu BARU namanya potensi. Terus, saya punya potensi di bidang bisnis, makanya sekarang saya jadi pengusaha kaya dan terkenal. Banyaaak sekali perusahaan saya, tersebar luas di seluruh nusantara. Anda mau apa?? Foods & Beverages? Garment? Furniture? Travel? Education? Semuanya ada!! Terus, saya juga ahli dalam memimpin, makanya saya sekarang menjabat sebagai ketua di EMPAT BELAS organisasi level nasional, bahkan ada yang level ASEAN. Terus, di bidang olahraga, Anda jangan salah, saya itu jago sekali main bulu tangkis. Saya pernah menjuarai tiga turnamen bergengsi. Nah, kayak gitu contohnya potensi. Oh iya, satu lagi potensi saya, yaitu di bidang KONSELING. Makanya sekarang saya jadi interviewer buat Anda.”

Gue tepuk tangan setulus mungkin.

“Eh, kalo boleh tahu, untuk apa potensi-potensi itu?”
“Ya supaya hidup saya bahagia. Supaya hidup senang!”
“Oh gitu.... Tapi kok kayaknya ada yang salah ya...”
“Salah gimana?!!”
“Bapak kok kelihatan nggak bahagia?? Muka Bapak tegang, kayak orang diburu polisi. Gerak tubuh Bapak terlihat begitu gelisah, nggak rileks, itu menandakan banyak sekali beban yang Bapak emban. Terus... eh, itu... maaf ya, itu rambut Bapak udah ubanan segitu banyak.”

Apakah Bapak itu murka? Oh tentu saja. Mukanya memerah kayak bekas luka Pangeran Zuko, keningnya mengernyit, matanya menyipit, tatapannya sengit. Tangannya udah mengepal dengan kerasnya. Ah, pokoknya udah ngambek banget deh ni orang. Bahkan, hampir-hampir aja Kyuubi keluar dari pantatnya.

“... terus PEMARAH pula! Nah, lengkap deh tuh.” Lanjut gue.

Ditendanglah kursi gue sampai mental ke ujung ruangan. Interpiyunya berakhir nahas. Ini semua mungkin karena keceplas-ceplosan gue yang sungguh memikat. Memikat tinju orang-orang yang mendengarnya.

0 komentar:

Posting Komentar