Gue lagi apa? Gue
lagi wawancara. Sama siapa? Sama
seorang doktor yang keren, masih muda, tapi—maaf—udah beruban. Buat apa gue
diwawancara? Entahlah, mungkin gue lagi ngelamar kerja untuk mengisi suara
di film-film kartun, itu adalah cita-cita rahasia gue. Rahasia antara gue,
Tuhan, dan siapapun yang baca tulisan ini, jadi, ssssttt, jangan bilang
siapa-siapa ya, apalagi Presiden SBY (sekarang Jokowi).
“Baiklah, Nak
[biiip], sebutkan potensi-potensi yang Anda miliki!”
“Potensi saya Pak?
Hmmmm, potensi download film, potensi nonton film, potensi download musik,
potensi dengerin musik, potensi download game,
potensi kalah main game, potensi nulis tulisan ngaw—”
potensi kalah main game, potensi nulis tulisan ngaw—”
“T-t-tunggu! Itu
potensi Anda?! Potensi macam apa itu?!” ucapnya ngambek.
“Eh... ya potensi
Pak. Potensi untuk membuat diri saya senang dan bahagia.”
“Apa?! Nggak ada
potensi yang kayak begitu!!”
“Lho??!! Gitu ya
Pak?! Terus kayak gimana dong?!”
“Potensi itu adalah
sesuatu yang menghasilkan. Kayak saya nih, potensi saya banyaaaak sekali.”
“Apa aja tuh Pak?
Tapi nggak sebanyak uban di kepala Bapak kan?? Hehehe...”
Plakkk!! Gue ditempeleng.
Bapak itu tampak
kesal banget. Tapi setelah kesalnya reda—yaitu sekitar 15
menit kemudian, dan selama 15 menit itu dia menumpahkan kekesalannya dengan
memurkai mencaci maki gue, bahkan dia nyumpahin supaya gue cepet beruban.
Padahal kan gue baru aja manis tujuh belas, jenggot gue aja baru semak-semak
belum menjadi hutan—dia melanjutkan
ocehannya.
“Nih ya, dengerin
saya ya! Saya punya potensi dalam hal hitung-menghitung, makanya sekarang saya
bisa jadi akuntan. Anda tahu berapa gaji akuntan?! DUA PULUH JUTA, tahu nggak!!
Itu BARU namanya potensi. Terus, saya punya potensi di bidang bisnis, makanya
sekarang saya jadi pengusaha kaya dan terkenal. Banyaaak sekali perusahaan
saya, tersebar luas di seluruh nusantara. Anda mau apa?? Foods & Beverages? Garment?
Furniture? Travel? Education?
Semuanya ada!! Terus, saya juga ahli dalam memimpin, makanya saya sekarang
menjabat sebagai ketua di EMPAT BELAS organisasi level nasional, bahkan ada
yang level ASEAN. Terus, di bidang olahraga, Anda jangan salah, saya itu jago
sekali main bulu tangkis. Saya pernah menjuarai tiga turnamen bergengsi. Nah,
kayak gitu contohnya potensi. Oh iya, satu lagi potensi saya, yaitu di bidang
KONSELING. Makanya sekarang saya jadi interviewer
buat Anda.”
Gue tepuk tangan
setulus mungkin.
“Eh, kalo boleh
tahu, untuk apa potensi-potensi itu?”
“Ya supaya hidup
saya bahagia. Supaya hidup senang!”
“Oh gitu.... Tapi
kok kayaknya ada yang salah ya...”
“Salah gimana?!!”
“Bapak kok
kelihatan nggak bahagia?? Muka Bapak tegang, kayak orang diburu polisi. Gerak
tubuh Bapak terlihat begitu gelisah, nggak rileks, itu menandakan banyak sekali
beban yang Bapak emban. Terus... eh, itu... maaf ya, itu rambut Bapak udah
ubanan segitu banyak.”
Apakah Bapak itu murka? Oh tentu
saja. Mukanya memerah kayak bekas luka Pangeran Zuko, keningnya mengernyit,
matanya menyipit, tatapannya sengit. Tangannya udah mengepal dengan kerasnya.
Ah, pokoknya udah ngambek banget deh ni orang. Bahkan, hampir-hampir aja Kyuubi
keluar dari pantatnya.
“... terus PEMARAH
pula! Nah, lengkap deh tuh.” Lanjut gue.
Ditendanglah kursi
gue sampai mental ke ujung ruangan. Interpiyunya berakhir nahas. Ini semua mungkin karena keceplas-ceplosan
gue yang sungguh memikat. Memikat tinju orang-orang yang mendengarnya.

0 komentar:
Posting Komentar