Seorang dokter
kejiwaan sedang memeriksa pasiennya.
“Saya suka
melakukan hal-hal yang berjamaah.”
“Maksudnya?” tanya
sang dokter keheranan.
“Ya... berjamaah,
bersama-sama. Seperti sholat berjamaah, makan berjamaah, mengobrol berjamaah,
tidur berjamaah, puasa berjamaah, buka puasa bersama, berangkat sekolah, pulang
sekolah, mengerjakan tugas, main, belajar, jalan-jalan, ya...
pokoknya semuanya deh, asalkan berjamaah, saya suka.”
pokoknya semuanya deh, asalkan berjamaah, saya suka.”
“Hmmm... cukup
menarik.”
“Lha iya! Bahkan,
Dok, tahu nggak, saya juga kepingin mati berjamaah, dalam sebuah peperangan di
jalan Allah. Jadi, masuk surganya juga berjamaah, bertemu dengan Allah-nya juga
berjamaah. Mantap nggak tuh?!”
“Ya... ya...
nampaknya itu merupakan hal yang seru.”
“Tentu saja seru,
Dok! Semua hal yang dilakukan bersama-sama itu pasti seru. Jangankan perbuatan
baik, Dok, korupsi saja lebih seru kalau dilakukan bersama-sama.”
“Begitu ya...
Hmmm... Lalu, kenapa saat ini Anda menyendiri??”
“Ah, itulah Dok,
yang ingin saya jelaskan dari tadi. Sekarang dokter tahu kan betapa indahnya
kebersamaan?”
“Ya, sekarang saya
sudah tahu, terimakasih kepada Anda karena sudah memberi tahu saya.”
“Tapi sayang sekali
Dok...”
“Kenapa?”
“Sepertinya tidak
ada yang mau gila berjamaah bersama saya.”
Ya iyalah! Kata si dokter di
dalam hati.
“Dokter mau?”
Si Dokter tersenyum
simpul. “Asal nanti Anda ajarkan saya bagaimana cara menjinakkan bom yang Anda
rakit ya...” kata Dokter dengan nada bercanda.
“Ah, itu sih
terlalu gampang Dok, tinggal bilang ‘Bismillahi Kun Fayakun!’, fyuuhhh,
langsung mati bomnya.”
Dokter itu
tersenyum, hanya bisa tersenyum.
FYI: Orang ini,
sebut saja namanya Nama, dia adalah seorang ahli meledakkan sesuatu, dia adalah
seorang komedian, pada awalnya, jadi dia sangat ahli dalam “meledakkan”
suasana. Tapi kemudian dia ditangkap kepolisian karena meledakkan 124 diskotik,
67 hotel, dan lebih dari seribu outlet makanan cepat saji dan supermarket, pada
waktu bersamaan. Ternyata Nama adalah alumni dari sebuah universitas
ternama di Eropa, keahliannya adalah merakit sesuatu yang bisa meledak secara
betulan (tidak seperti petasan atau bom molotok) dan efisien. Nama hendak
dijebloskan ke penjara untuk selanjutnya dihukum mati, tapi pihak rumah sakit
yang telah selesai memeriksanya menyatakan bahwa Nama mengidap suatu kelainan
jiwa, jadi dia dibebaskan dari jerat hukum. Wallahua’lam
readers!
0 komentar:
Posting Komentar