Jumat, 14 Juni 2013

Absurd

Dua ekor pecinta sedang bermesraan di bawah pohon nangka. Mereka nggak tahu kalo di atasnya ada seekor Kuntilanak yang lagi galau karena ditinggal pacarnya: tuyul. Ya, tepat sekali, jaman sekarang kan emang lagi ngetrend pacaran sama brondong, begitu juga (mungkin) di dunia perhantuan. Sang Kunti cemburu banget melihat kemesraan sepasang pemabuk itu (pemabuk cinta).

Si cewek memulai pembicaraan maut itu.
“Tahu nggak lo, gue pengen hidup sama lo, kayak gini, selamanya, dan kita nggak tua-tua.”
“Aduh, begimana yak. Nggak tua-tuanya itu lho yang jadi masalah.”
“Masa sih lo nggak bisa nemuin obat supaya kita nggak tua-tua, lo kan ahli bioteknologi?!”
“Iya, tapi emang nggak ada obat begituan mah.”
“Huh, ya udah, gue nggak mau sama lo lagi. Gue mendingan cari cowok baru yang bisa ‘nggak tua-tua’.” (Jangan bilang dia mau nyari tuyul!)
“Eh, tunggu! Masa lo tega ninggalin gue. Gue nggak bisa hidup tanpa lo!”
“Alah bullshit!”
“Emang sih bullshit. Eeeh, kalo gitu, gini: gue nggak akan bahagia kalau nggak ada lo. Please, ini serius, ini bukan bullshit. Gue takut gue bakal menderita busung lapar kalo nggak ada lo.”
“Lo kira gue makanan!”
“Eh, enggak, maksud gue, gue bakal susah makan kalo nggak ada lo, selera makan gue berkurang.”
“Berkurang?! Cuma itu?!”
“Iya lah! Ya gue jujur lah. Kalo udah laper banget mah pasti mau makan. Masa iya gue mati kelaparan cuma gara-gara hal sepele kayak begitu?”
“Hal sepele?! Lo bilang ‘kehilangan gue’ adalah hal sepele?!”
“Aduh, lo jangan bikin bingung deh. Digombalin salah, dijujurin salah. Gue mesti gimana? Udah deh, mau lo apa? Biar nggak tua-tua?? Oke, gue sanggupin. Gue tahu caranya gimana supaya nggak tua-tua.”
“Serius lo?!”
Si cowok bengong sejenak, tatapannya kosong ke depan kayak orang blo’on. “Iya, gue serius!” katanya tiba-tiba.
“Gimana emang caranya??”
“Lo pengen tahu? Apa lo udah siap?”
“Iya gue pengen tahu. Iya gue udah siap.”
“Lo yakin?? Tapi lo janji ya, jangan marah sama gue!”
“Apaan emang?”
“Janji!”
“Yaelah! Iya, iya, gue janji nggak bakal marah sama lo.”
“Oke, kalo gitu, mulai sekarang kita putus! Pe-u-te-u-es, PUTUS!”
“Apa?!”
“Iya, gue serius. Lo sama gue putus. Terus, dari sekarang, masing-masing dari kita pergi buat nyari ilmu agama dan mengejar cita-cita masing-masing. Lima tahun dari sekarang kita ketemuan lagi di bawah pohon ini, di hari yang sama, di jam yang sama, kalo bisa. Terus, abis itu, besoknya gue bakal datangin bapak lo, gue lamar lo, kita merit, kita bangun keluarga yang harmonis dan ideal, kita cetak anak-anak yang luar biasa, setelah itu kita mati bersama-sama, lalu masuk surga.”
Si cewek melongo, dia nggak habis pikir, dia shock berat. Tuhan, apa yang terjadi sama cowok gue?!
“Lo udah sinting ya?! Lo kerasukan jin apa sih?? Ya ampun...! Apa hubungannya semua yang lo katain itu dengan nggak tua-tua’??”
“Satu-satunya cara buat hidup selamanya adalah dengan hidup di surga. Di dunia kita ini nggak ada yang kayak di film “Twilight”, yaitu vampir yang katanya ‘nggak tua-tua’. Jadi, satu-satunya cara adalah kita berdua harus bisa masuk surga, baru di sana kita bisa hidup bahagia dan nggak tua-tua.”
Si cewek melongo tanpa bisa ngomong sepatah katapun.
Tiba-tiba si cowok pergi meninggalkan si cewek.
“Eh, mau kemana lo??”
“Mau ke Masjid, gue mau tobat, gue mau minta ampun atas dosa kita pacaran selama ini.”
“HAH??!” Si cewek nggak bisa berkutik. “Seseorang tolong gue...! Pacar gue kesurupan...!” jeritnya.

Di atas pohon, Kuntilanak ketawa terbahak-bahak nggak tertahan, sampe keluar air matanya.
“Kenapa lo Kunt, ketawa ngakak gitu?? Kayak setan aja,” tanya Genderuwo yang tiba-tiba aja udah nangkring di samping Kuntilanak.
“Kampret lo! Gue emang setan bego!” jawab si Kunti, sambil masih ketawa. “Ah, coba lo liat tadi, lucu banget dah tuh manusia.”
“Lucu begimana?”
Si Kunti menyentuhkan jarinya ke jidat Genderuwo. (Oke gue ngaku, ini emang terinspirasi “Renesmee”-nya Twilght saga: Breaking Dawn.) Tak lama kemudian si Genderuwo ngakak juga. Lalu mereka berdua tertawa ngakak bersama-sama.
“Ahahahaha... emang edan si Ijot?!”
“Hah, Ijot?!”
“Iya, kayaknya dia yang nyurupin tuh anak.”
“Hahaha, kampret bener!”
FYI: Ijot adalah nama seapi jin (Apa? Salah? Masa gue tulis ‘seorang’ jin).

[To be continued]

1 komentar: