Dua
ekor pecinta sedang bermesraan di bawah pohon nangka. Mereka nggak tahu kalo di
atasnya ada seekor Kuntilanak yang lagi galau karena ditinggal pacarnya: tuyul.
Ya, tepat sekali, jaman sekarang kan emang lagi ngetrend pacaran sama brondong,
begitu juga (mungkin) di dunia perhantuan. Sang Kunti cemburu banget melihat
kemesraan sepasang pemabuk itu (pemabuk cinta).
Si
cewek memulai pembicaraan maut itu.
“Tahu
nggak lo, gue pengen hidup sama lo, kayak gini, selamanya, dan kita nggak
tua-tua.”
“Aduh,
begimana yak. Nggak tua-tuanya itu lho yang jadi masalah.”
“Masa
sih lo nggak bisa nemuin obat supaya kita nggak tua-tua, lo kan ahli
bioteknologi?!”
“Iya,
tapi emang nggak ada obat begituan mah.”
“Huh,
ya udah, gue nggak mau sama lo lagi. Gue mendingan cari cowok baru yang bisa
‘nggak tua-tua’.” (Jangan bilang dia mau
nyari tuyul!)
“Eh,
tunggu! Masa lo tega ninggalin gue. Gue nggak bisa hidup tanpa lo!”
“Alah
bullshit!”
“Emang
sih bullshit. Eeeh, kalo gitu, gini:
gue nggak akan bahagia kalau nggak ada lo. Please, ini serius, ini bukan bullshit. Gue takut gue bakal menderita
busung lapar kalo nggak ada lo.”
“Lo
kira gue makanan!”
“Eh,
enggak, maksud gue, gue bakal susah makan kalo nggak ada lo, selera makan gue
berkurang.”
“Berkurang?!
Cuma itu?!”
“Iya
lah! Ya gue jujur lah. Kalo udah laper banget mah pasti mau makan. Masa iya gue
mati kelaparan cuma gara-gara hal sepele kayak begitu?”
“Hal
sepele?! Lo bilang ‘kehilangan gue’ adalah hal sepele?!”
“Aduh,
lo jangan bikin bingung deh. Digombalin salah, dijujurin salah. Gue mesti
gimana? Udah deh, mau lo apa? Biar nggak tua-tua?? Oke, gue sanggupin. Gue tahu
caranya gimana supaya nggak tua-tua.”
“Serius
lo?!”
Si
cowok bengong sejenak, tatapannya kosong ke depan kayak orang blo’on. “Iya, gue serius!” katanya
tiba-tiba.
“Gimana
emang caranya??”
“Lo
pengen tahu? Apa lo udah siap?”
“Iya
gue pengen tahu. Iya gue udah siap.”
“Lo
yakin?? Tapi lo janji ya, jangan marah sama gue!”
“Apaan
emang?”
“Janji!”
“Yaelah!
Iya, iya, gue janji nggak bakal marah sama lo.”
“Oke,
kalo gitu, mulai sekarang kita putus! Pe-u-te-u-es, PUTUS!”
“Apa?!”
“Iya,
gue serius. Lo sama gue putus. Terus, dari sekarang, masing-masing dari kita
pergi buat nyari ilmu agama dan mengejar cita-cita masing-masing. Lima tahun
dari sekarang kita ketemuan lagi di bawah pohon ini, di hari yang sama, di jam
yang sama, kalo bisa. Terus, abis itu, besoknya gue bakal datangin bapak lo,
gue lamar lo, kita merit, kita bangun keluarga yang harmonis dan ideal, kita
cetak anak-anak yang luar biasa, setelah itu kita mati bersama-sama, lalu masuk
surga.”
Si
cewek melongo, dia nggak habis pikir, dia shock
berat. Tuhan, apa yang terjadi sama cowok
gue?!
“Lo
udah sinting ya?! Lo kerasukan jin apa sih?? Ya ampun...! Apa hubungannya semua
yang lo katain itu dengan nggak tua-tua’??”
“Satu-satunya
cara buat hidup selamanya adalah dengan hidup di surga. Di dunia kita ini nggak
ada yang kayak di film “Twilight”, yaitu vampir yang katanya ‘nggak tua-tua’.
Jadi, satu-satunya cara adalah kita berdua harus bisa masuk surga, baru di sana
kita bisa hidup bahagia dan nggak tua-tua.”
Si
cewek melongo tanpa bisa ngomong sepatah katapun.
Tiba-tiba
si cowok pergi meninggalkan si cewek.
“Eh,
mau kemana lo??”
“Mau
ke Masjid, gue mau tobat, gue mau minta ampun atas dosa kita pacaran selama
ini.”
“HAH??!”
Si cewek nggak bisa berkutik. “Seseorang tolong gue...! Pacar gue
kesurupan...!” jeritnya.
Di
atas pohon, Kuntilanak ketawa terbahak-bahak nggak tertahan, sampe keluar air
matanya.
“Kenapa
lo Kunt, ketawa ngakak gitu?? Kayak setan aja,” tanya Genderuwo yang tiba-tiba
aja udah nangkring di samping Kuntilanak.
“Kampret
lo! Gue emang setan bego!” jawab si Kunti, sambil masih ketawa. “Ah, coba lo
liat tadi, lucu banget dah tuh manusia.”
“Lucu
begimana?”
Si
Kunti menyentuhkan jarinya ke jidat Genderuwo. (Oke gue ngaku, ini emang
terinspirasi “Renesmee”-nya Twilght saga: Breaking Dawn.) Tak lama kemudian si
Genderuwo ngakak juga. Lalu mereka berdua tertawa ngakak bersama-sama.
“Ahahahaha... emang edan si Ijot?!”
“Hah, Ijot?!”
“Iya, kayaknya dia yang nyurupin tuh
anak.”
“Hahaha, kampret bener!”
FYI: Ijot adalah nama seapi jin (Apa?
Salah? Masa gue tulis ‘seorang’ jin).
[To be continued]
lucu nih, bikin lanjutannya donk :)
BalasHapus